Kesehatan telinga sering kali menjadi hal yang terabaikan dalam rutinitas latihan atlet renang, padahal gangguan pada area ini dapat menghentikan aktivitas latihan selama berminggu-minggu. Salah satu masalah yang paling umum dijumpai adalah otitis eksterna, atau yang lebih dikenal dengan istilah Swimmer’s Ear. Bagi komunitas atlet di Depok, yang memiliki jadwal latihan padat di berbagai fasilitas kolam umum maupun klub, Pencegahan Swimmer’s Ear telah menjadi bagian penting dari protokol kesehatan harian. Penyakit ini disebabkan oleh air yang terperangkap di saluran telinga setelah berenang, yang menciptakan lingkungan lembap bagi pertumbuhan bakteri atau jamur.
Langkah pertama dalam menjaga kesehatan pendengaran adalah melalui edukasi higienitas yang benar mengenai perawatan telinga pasca-latihan. Banyak perenang di Depok yang secara keliru menggunakan cotton bud atau pembersih telinga keras untuk mengeringkan air. Hal ini justru berbahaya karena dapat menyebabkan luka mikroskopis pada kulit saluran telinga atau mendorong kotoran telinga lebih dalam, yang justru memicu infeksi. Cara yang lebih aman adalah dengan memiringkan kepala ke samping dan menarik daun telinga ke arah yang berbeda untuk membiarkan air keluar secara alami dengan bantuan gravitasi, atau menggunakan pengering rambut dengan suhu paling rendah dari jarak aman.
Penggunaan perlengkapan pelindung juga sangat disarankan bagi para Atlet Depok. Penutup telinga (earplugs) yang didesain khusus untuk berenang dapat membantu mencegah air masuk ke dalam saluran telinga tanpa mengganggu keseimbangan. Selain itu, penggunaan topi renang yang menutupi telinga juga memberikan lapisan perlindungan tambahan. Namun, higienitas perlengkapan tersebut juga harus dijaga; penutup telinga yang kotor justru bisa menjadi sarana pemindahan kuman. Oleh karena itu, mencuci pelindung telinga dengan sabun antiseptik setelah setiap sesi penggunaan adalah langkah preventif yang tidak boleh dilewatkan oleh setiap atlet.
Selain faktor mekanis, menjaga keseimbangan pH di dalam saluran telinga juga merupakan strategi pencegahan yang efektif. Beberapa pelatih di Depok menyarankan penggunaan tetes telinga khusus yang bersifat asam (seperti campuran alkohol dan cuka putih dalam pengawasan medis) setelah berenang. Cairan ini berfungsi untuk mengeringkan air yang tersisa sekaligus menciptakan suasana yang tidak kondusif bagi pertumbuhan bakteri. Namun, langkah ini hanya boleh dilakukan jika gendang telinga dalam kondisi utuh dan tidak ada iritasi sebelumnya. Konsultasi rutin dengan tenaga medis sangat penting bagi para perenang profesional untuk memastikan kesehatan telinga mereka tetap dalam kondisi prima.
