Dalam renang gaya dada, salah satu aspek terpenting untuk meningkatkan kecepatan dan efisiensi adalah dengan mengurangi resistensi air. Resistensi, atau hambatan air, dapat memperlambat perenang dan menghabiskan energi yang berharga. Pada Jumat, 10 Oktober 2025, dalam sebuah workshop teknik renang yang diadakan oleh Federasi Akuatik Indonesia di Pusat Pelatihan Renang Nasional, Jakarta, pelatih kepala Bapak Danu Wijaya menekankan, “Posisi tubuh yang aerodinamis adalah fondasi untuk setiap perenang gaya dada yang ingin mencapai potensi maksimal mereka.” Pernyataan ini diperkuat oleh hasil penelitian dari Institut Ilmu Kelautan dan Teknologi, yang pada bulan September 2025, menemukan bahwa optimasi posisi tubuh dapat mengurangi drag hingga 20%.
Untuk mengurangi resistensi, fokus utama adalah menjaga tubuh tetap horizontal dan ramping di air. Perenang seringkali membuat kesalahan dengan mengangkat kepala terlalu tinggi atau membiarkan pinggul mereka tenggelam. Keduanya menciptakan area permukaan yang lebih besar yang bergesekan dengan air, sehingga meningkatkan hambatan. Saat meluncur atau saat berada di bawah air setelah bernapas, perenang harus berusaha untuk memanjangkan tubuh dari ujung jari hingga ujung kaki, seperti anak panah yang melesat. Tangan harus dirapatkan di depan kepala, dan kaki harus lurus. Observasi yang dilakukan oleh tim ahli biomekanik olahraga pada Kejuaraan Renang Antar-Akademi Kepolisian pada 15 Mei 2025 di kompleks markas besar, menunjukkan bahwa perenang dengan posisi tubuh yang paling streamline memiliki waktu tempuh yang signifikan lebih cepat.
Aspek krusial lainnya dalam mengurangi resistensi adalah sinkronisasi antara pernapasan dan posisi tubuh. Saat kepala terangkat untuk bernapas, penting untuk meminimalkan durasi dan ketinggian angkatan kepala. Angkatlah kepala secukupnya untuk menghirup udara, lalu segera kembalikan ke posisi awal yang streamline. Jangan biarkan tubuh tenggelam terlalu dalam atau pinggul jatuh. Bapak Danu menyarankan agar perenang berlatih pernapasan cepat dan efisien, seperti “menghisap” udara daripada mengangkat seluruh kepala keluar dari air.
Selain itu, gerakan kaki dan tangan juga berperan dalam mengurangi resistensi. Setelah melakukan tendangan dan kayuhan, pastikan tangan dan kaki kembali ke posisi lurus dan rapat sesegera mungkin. Hindari gerakan-gerakan yang tidak perlu atau “berlebihan” yang dapat menciptakan turbulensi di air. Misalnya, setelah tendangan katak, pastikan kaki disatukan dengan rapat dan lurus di belakang tubuh. Data dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) yang dihimpun selama sesi latihan tim nasional pada 20 April 2025, menunjukkan bahwa perenang yang menjaga postur tubuh konsisten dan meminimalkan gerakan tidak perlu dapat mengurangi resistensi secara signifikan, yang berdampak langsung pada peningkatan kecepatan. Dengan fokus pada posisi tubuh yang optimal, perenang gaya dada dapat bergerak lebih cepat dan lebih efisien di dalam air.
