Dalam sebuah perjalanan organisasi, momen berhenti sejenak untuk menoleh ke belakang dan menilai apa yang telah dicapai merupakan hal yang sangat vital. Di Kota Depok, kesadaran akan pentingnya akuntabilitas publik diwujudkan melalui agenda rutin evaluasi kinerja yang melibatkan seluruh elemen kepengurusan. Langkah ini bukan sekadar prosedur administratif rutin, melainkan upaya refleksi mendalam untuk mengukur efektivitas setiap program kerja yang telah dijalankan selama periode tertentu. Tujuan akhirnya sangat jelas: memastikan bahwa organisasi tetap berada di jalur yang benar untuk melayani kepentingan atlet dan kemajuan olahraga akuatik secara keseluruhan.
Satu per satu capaian dianalisis secara kritis, mulai dari peningkatan jumlah atlet berlisensi, frekuensi kejuaraan lokal, hingga raihan medali di tingkat provinsi. Namun, evaluasi ini tidak hanya bicara tentang angka dan medali. Aspek manajerial seperti efisiensi penggunaan anggaran, transparansi dalam pengambilan keputusan, dan soliditas hubungan antar pengurus juga menjadi poin utama penilaian. PRSI Depok berambisi untuk bertransformasi menjadi organisasi olahraga yang tidak hanya produktif dalam mencetak juara, tetapi juga bersih secara administratif dan sehat secara finansial.
Konsep organisasi yang sehat mencakup banyak dimensi. Pertama adalah kesehatan finansial, di mana setiap pemasukan dan pengeluaran harus dapat dipertanggungjawabkan dengan standar akuntansi yang benar. Kedua adalah kesehatan budaya kerja, di mana tidak ada lagi konflik kepentingan atau ego sektoral yang menghambat pengambilan keputusan strategis. Depok menyadari bahwa sering kali organisasi olahraga goyah bukan karena kurangnya atlet berbakat, melainkan karena rapuhnya fondasi internal organisasi. Oleh karena itu, perbaikan sistem pelaporan dan digitalisasi arsip menjadi salah satu rekomendasi utama dalam hasil evaluasi kali ini.
Pihak pengurus juga memberikan ruang bagi pihak eksternal, seperti perwakilan klub dan orang tua atlet, untuk memberikan masukan dalam proses evaluasi ini. Hal ini penting untuk mendapatkan perspektif yang jujur mengenai dampak kebijakan organisasi di tingkat akar rumput. Dengan mendengarkan feedback dari lapangan, organisasi dapat memahami masalah-masalah riil yang dihadapi pelatih, seperti keterbatasan jam sewa kolam atau mahalnya biaya peralatan latihan. Hasil evaluasi kinerja ini kemudian dikonversi menjadi rencana aksi (action plan) yang nyata untuk diperbaiki pada tahun berikutnya, sehingga kesalahan yang sama tidak terulang kembali.
